Menu
Blog'e Cakjun

Menyusuri Sudut kota Dan Menelisik Sayuran Organik Dikota Malang, Beginilah keadaannya

Kebun sayuran organik 
Bagi saya melakukan perjalanan malam di
suatu tempat yang belum pernah saya temui sebelumnya merupakan sebuah tantangan tersendiri atau membuat rasa sensasi dan kepuasan pribadi. Oleh Karena itu dari Hotel Sahid Montena Malang menuju ke jalan Gayam no 2 kota malang yang berjarak hampir 5 km dan memakan waktu 1 jam Man lebih saya lalui dengan berjalan kaki seorang diri. Tanpa seorang kekasih hati. Ciaagghh..... Grodak.

Pada sebuah kesempatan kali ini saya bisa berada di Kota Malang Jawa Timur lima hari disini. Pada malam ke lima adalah perjalanan kaki saya yang terjauh. Sebelumnya ngak jauh jauh amat. Di jalan Gayam no 2 disitulah tujuan saya. Yakni berkunjung ke Rumah Kang Jasmito seorang pelaku usaha yang bergerak di bidang perkebunan sayur organik yang saat ini tengah memasuki masa perkembangan.

Saya kenal lama kang Jasmito lewat sebuah komunitas Blogger yang ada di Tuban. Tentu dengan usahanya yang saya anggap baik secara pemasaran dan manageman keuangannya. saya berharap suatu saat bisa menemui beliau. Dalam sebuah postingan lain sebelumnya pernah saya bahas. beliau membagikan bagaimana tata cara melakukan strategi pemasaran melalui online.

Selain itu ia juga berasal atau asli orang dari Tuban. Dan kadang kala saat hari hari besar seperti hari raya idul fitri kemarin ia juga sempat silaturahmi ke orang tua dan saudara saudaranya di Tuban. Pada waktu yang lain ia juga sempat menghubungi saya untuk bersilaturahmi kerumahku namun oleh sebuah Tugas Negara pertemuan itu tidak terjadi.

Karenanya pada hari kelima saya akan kembali ke Tuban. Dan pada saat ia di Tuban sempat menghubungi ingin ke Rumahku Tuban. Dan bagi saya ini mungkin sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya dapatkan kedua kalinya. Mengingat jarak diantara kita cukup jauh selama ini hanya bisa LDRran :)  Karena saya juga tidak tahu besok jadwal acara seperti apa. Malam ini juga saya berniat dengan bertekat bulat berangkat berjalan kaki menuju ke Rumahnya. Iya tidak naik apapun atau menaiki dirimu.  Hanya berjalan kaki sambil menikmati keindahan wanita dan aktivitas malam di kota yang dingin ini.

Sepanjang perjalanan kaki saya, Saya banyak melihat dan mengamati. Bagaimana Aktivitas orang orang yang ada dikota Malang. Baik aktifitas perdagangan, agama, masyarakat, tempat tempatnya, jalan raya, pemakai jalan raya, sampai orangnya yang cakep cakep tidak luput dari pengamatan mata saya. Astagfirullah.. Sungguh ciptaan tuhan maha sempurna.. Putih putih mulus mulus wanita disini.

Sampai pendengaran pun, kuping saya bisa merekamnya. Di sebuah perjalanan itu pun. Ternyata fakta membuktikan bahwa walaupun kota malang itu sebuah kota dingin kedua di Indonesia. Pikirku orang di dalamnya kebal terhadap cuaca yang ada disini. Karena sudah terbiasa dengan cuaca alam disini yang dingin Namun tidak demikian. Kala saya menangkap pembicaraan disebuah gang sempit, bin remang remang. Mereka mengatakan merasa bahwa ia kedinginan juga. Nah.. Apalagi saya yang terbiasa dengan cuaca panas. Tentu Leleku sangat mengekeret sekali.

Di sebuah jalan ada Masjid yang megah megah, ada juga seperti bangunan tua entah itu apa. Atau bekas rumah penjajahan atau apa. Saya tidak begitu tertarik untuk mencari informasinya karena tujuan saya bukan untuk itu.

Karena malang juga merupakan kota bassis masa perang pada saat perang kemerdekaan. Dan juga merupakan kota kerajaan atau dikenal dengan kerajaan Kanjuruhan. Tentu masih banyak peninggalan masa kerajaan Kanjuruhan hingga masa Belanda disini.

Sehingga di sebuah jalan yang hampir dekat dengan tepi jalan ada satu Makam yang besar  bertuliskan makam Pahlawan. Kira kira memiliki panjang 2 meter lebih dan lebih setengah meter lebih. Entah makam siapa atau pahlawan siapa saya kurang paham. Mengingat ini sebuah perjalanan malam dan banyak orang orang di sekitar  tentu saya tidak menggali lebih dalam soal makam tersebut.

Bukit yang tinggi telah ku lewati,
gunung pun telah kudaki Hehe.

Melewati jembatan, pasar, perkotaan, pojok kota, perumahan, tepi kali, sungai,  Gang dan jalan kuburan yang sepi telah saya lewati hingga satu jam kemudian akhirnya saya tiba di Rumah kang Jasmito pada Pukul sekitar 20.45 Wib.

Rumah Jasmito pembudidaya sayuran organik 

Di dalam rumah beliau saya di sambut dengan baik, bahkan saya tidur di rumahnya tidak kembali ke Hotel. Karena kalau balik dengan berjalan kaki tentu setelah tiba di hotel saya tidak akan mendapatkan akses masuk karna kemalaman. Kalau pun kembali memakai kendaraan. Ini juga saya kurang setuju. Mengingat ada hal lain yang perlu kita bahas secara santai tenang dan nyaman dan tidak kita sadari bahwa kita telah melakukan pengcurhatan wanita Malang . Dan juga tidak berburu buru terhadap waktu. Kecuali ngantuk yang memisahkan ranjang kita.

Pada waktu pagi, sebelum ia menghantarkan saya ke Hotel untuk mengikuti acara atau kegiatan saya yang terakhir. Saya di ajak melihat lihat dulu ke Perkebunan sayur organiknya. Namun sebelumnya saya diberikan sarapan dan menenguk secangkir kopi terlebih dahulu agar bisa kuat menerima kenyataan.

Sayur organik memang merupakan tanaman yang di tanam atau dihasilkan secara alami tanpa memakai bahan bahan kimia. Untuk pemupukan. Pupuk yang diberikan berasal dari kotoran kandang hewan. Seperti kompos atau pupuk kandang sendiri. Sedangkan untuk membasmi hama juga tidak di berikan pestisida dari kimia. Biasanya seperti yang informasi yang seringkali saya temui. Biasanya mereka membuat racikkan ramuan ramuan tersendiri dari bahan bahan alami.


Di katakan kang Jasmito ia tidak memakai bahan apapun untuk pemupukan dan pembasmian hama. Bahkan hanya mengambil saja kalau ada hama yang menyerang. Saya melihat sayur organik di perkebunannya memang pertumbuhannya sangat baik. Mengingat di daerah malang merupakan daerah dataran tinggi dengan cuaca yang adem, dingin dan lembab. Sangat cocok sekali untuk dijadikan lahan atau budidaya untuk tanam tanaman.

Bahkan saya melihat nampak tidak ada hama sama sekali atau tanda tanda pertumbuhan kurang baik, biasanya pertumbuhan kurang baik itu sangat bisa dilihat dari dedaunnannya namun di perkebunannya daun terlihat sangat ijo royo royo dan segar segar. Hama pun seperti ulat dan sebagainya tidak begitu menonjol.

Berbeda dengan daerah saya dengan cuaca yang terbilang cukup panas. Ketika saya menerapkan sistem organik kala uji coba menanam beberapa jenis sayuran. Mengalami sedikit pertumbuhan kurang baik. Atau pertumbuhan baik namun hama menyerang sangat ganas dan sulit diatasi.

Karena mungkin tanaman lain memakai sistem konvensional sedangkan saya tidak. Disitiluh hama hama kemudian beralih menyerang ke tanaman saya. Melihat tanaman tanaman kang Jasmito ini, kembali lagi ingin menanam kembali sayur sayuran. Walaupun hasil tidak seperti yang diharapkan namun minimal masih bisa dikonsumsi untuk keluarga sendiri.

Sayuran organik memang sayuran bila kita konsumsi akan banyak memberikan kita manfaat sesuai dengan apa yang kita makan dan tidak menimbulkan efek samping jangka panjang. Berbeda dengan sayuran konvensional yang selama ini kita makan. Banyak dikatakan dari ahli kesehatan bila kita sering mengkonsumsi sayuran tersebut akan memiliki dampak bahaya untuk kesehatan jangka panjang.


Namun inilah masyarakat seperti saya sendiri yang seringkali mengabaikan soal kesehatan pangan. Asal bagus kita makan.

Dampak buruk untuk jangka panjang tidak terbesit untuk berfikir sama sekali. Asal murah kita beli.

Dari situlah penyakit penyakit sembarang kalir ada. Berbeda dengan orang orang terdahulu penyakit hanya beberapa nama saja. Karna yang dimakan ya itu itu saja dan belum ada juga seperti Gramason zr, zt, zp dst. Namun sekarang jumlah nama tak terhitung dan mungkin tidak akan kita tahu namanya karna kita bukan spesialis penyakit. Hanya pak dokter dan Bu dokter yang tahu.

Selain kota malang adalah kota yang banyak di kunjungi sebagai kota pariwisata dengan keindahan alam yang sangat mempesona. Di kota Malang di cap baik sebagai kota pendidikan. Banyak daerah daerah lain yang menjadikan kota malang sebagai tempat menimba ilmu dikota ini. Termasuk tetangga saya dari Tuban banyak sekali menuntut ilmu disana. Termasuk juga kang Jasmito sampai mendapat seorang kekasih orang Malang dan tidak kembali di Tuban ia memutuskan dan hidup di Malang hingga kini sudah memiliki dua keturunan.

Tentu ini menjadi pasar baik bagi sayur organik untuk menaikkan kasta disana mengingat jumlah penduduknya banyak dan tingkat pengetahuannya tinggi.

Di kota saya sayuran organik tidak begitu dipandang, Bahkan masih sedikit sulit untuk mendapatkan pangsa pasar. Berbanding terbalik dengan pasar. organik kota malang.

Sayuran organik memiliki pasar yang cukup baik. Mengingat Malang merupakan kota pendidikan tentu mereka akan paham betul terhadap sayuran organik yang tidak gampang untuk membudidayakannya dan mereka paham betul bahwa sayur organik memiliki banyak manfaat terhadap kesehatan.

Walaupun tidak semua orang Malang memiliki tingkat pengetahuan yang sama namun dengan jumlah penduduk yang hampir 895.387 jiwa. Tentu pasar akan menerima keberadaan sayur organik yang walaupun dijual agak sedikit tinggi dari sayuran konvensional. Dan untuk menikmati hasil organik ini umumnya hanya kalangan dari golongan menengah ke atas. Namun begitu masih bisa eksis, bersaing, dan mengimbanginya.

Inilah yang memotivasi seorang petani sayur organik seperti kang Jasmito yang sangat memperhatikan dampak buruk atau mengimbangi sayuran konvensional dengan sayuran organik. Terhadap kesehatan. Dan pangsa pasar yang terbilang sangat bagus disini.

www.cakjun.web.id 

Tidak hanya kita sebagai manusia saja yang bisa dibahayakannya namun alam dan lingkungan juga turut memengaruhi terhadap bahan bahan dari kimia. Serta faktor alam dan lingkungan turut serta mengamininya sehingga ia baru dua tahun memfokuskan diri sebagai pengusaha sayuran organik. Ia dan patner patnernya bisa memiliki omset jutaan rupiah perharinya. Untuk mengetahui sayuran organik milik Kang Jasmito ini lebih lanjut Anda bisa go to Orgomedia.com Dan Toko. Orgomedia.com

2 comments

  1. Wah, jadi tertarik saya cak jun, tapi saya nggak bakat jika bertanam sayur organik coba gimana.. hehe.

    Tapi ngomong2 cak Jun ke malang nggak mau bilang, coba kalau bilang pasti traktir,, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dah biarkan saya aja yang menanam sampean tinggal masak saja hahahaha.

      Sampean kan ngak di malang mbak.. Jadi ya saya ngak bilang hekhekhek :)

      Delete

Demi kenyamanan bersama berkomentarlah yang relavan. Terimakasih kunjungan Anda