Menu
Blog'e Cakjun

Pergi Kebarat Mencari Srabeh



Lhawong namanya bujangan, pergi kemana mana tiada orang yang melarang sesuai dengan apa yang di sairkan Bang haji Rhoma irama. Saya bersama crew golek begenggek kopi. Berangkat medang di sekitaran kota Tuban. Tepatnya di sebuah jalan karang indah 19 km dari padepokkan saya. Nah dari sinilah, kami meneruskan acara. Pergi kebarat Cari Srabeh.


"Ngajak ngopi pesennya susu jahe. TUMAN"

"Pie golek ketan?" Salah satu di antara kami. Mencoba mengajak untuk mencari isi perut. "Ayo makan srabeh wae sahutku" . Thilalah semua kok pada setuju. Padahal saya juga asal jeplak saja. Ya mungkin saya muda sendiri ketimbang mereka, coro jowone nyungkanilah. Embohlah. Saya sendiri sudah mulai  jarang medang di luar. Kalau beberapa tahun yang lalu sih tahu di mana tempat tempat beginian namun setiap tahun kan ya ada ada saja tempat tempat yang mulai mendirikan usaha baru. jadi yang lebih paham mereka mereka Kids zaman now ketimbang saya.

Kemudian teman saya yang di depan yang lebih dulu keluar dari tempat ngopi ini dengan mengendarai kuda besi langsung menuju ke arah barat. ("Baca : Bukan mencari kitab suci tapi mencari Srabeh"). Sedangkan saya naik di belakang teman saya alias goncek. Lha wong anyepe sungguh terlalu malam ini. Ini pun kundur dari sini sudah 10 menit yang lalu dari jam 00.01 dini hari. Yah udah ngikut depan sajalah.

Sesampainya di lautan ku kabarkan semua pada wa, fb, ig. Tibalah di tempat tujuan. Yaitu tempat penjual Srabeh.


Di sini, sangat rame sekali orang orang makan Srabeh. Di tambah lagi dengan crew saya yang berjumlah satu lusin kurang 3. Menjadikan tempat jual srabeh ini tambah rame. Sampai penjualnya pun tak kelihatan. Aku sih santai belum ambil bagian. Ambil foto foto dulu. Bajigur setan alas fotonya banyak yang blur semua.

Jajanan Srabeh di kota Tuban mereka sudah mengenal, mengetahui, bentuk dan karakteristiknya. Karena sudah Lagend Namun, Mungkin sebagian daerah tak mengenal apa itu Srabeh? Walaupun di daerah daerah lain juga ada sih sebenarnya. Di luar sana di sebutkan namanya Serabi atau Serabih. Namun ada sedikit perbedaan di rasa dan penyajian.

Di Tuban sendiri Srabeh merupakan makanan atau jajanan yang terbuat dari sari kelapa di campur dengan adonan tepung beras sedikit ada gula jawanya kemudian di panaskan atau di masak di tungku. Adonan tersebut di masukan kedalam wajan yang terbuat dari tanah liat. "Tanpa di wolak walek koyo goreng tempe" di biarkan sampai dirasa matang. Alat untuk memasak srabeh ini semua terbuat dari tanah dan memakai kayu bakar untuk memasaknya. Jadi ngak ada kompor atau wajan beserta LPG ngak ada. Inilah yang menjadikan Srabeh Tuban memiliki rasa yang khas sedikit berbeda.  Sangat legit dan gurih sekali. Bentuknya bulat namun datar, rata rata memiliki berdiameter 10cm. Yah 11 - 12 lah sama Srabeh yang sempat viral 80 juta itu.

Srabeh sangat enak langsung di makan tanpa campuran apapun,  bisa juga di kasih santan sesuai selera. Namun ada beberapa crew kami malah di campur dengan kuah sayuran. Entah gimana rasanya. Namun dari orang selusin kurang tiga merasakan tidak entak. Ya iyalah hawong "ora anggone" yo ora masukkkkkk Pakk eko". 

Penampakan srabeh yang berhasil saya potret, dengan sedikit santan. 

Yang semestinya Srabeh hanya di campur atau di beri sedikit santan. Malah mereka di campur dengan kuah sayuran yang pedas. Makanya toh ya kalau ndak tau itu tanya pada ahlinya ahli intinya inti biar bisa merasakan nikmatnya Srabeh. Saya sendiri sih menikmatinya dengan santai dan saya rasakan, gimana rasa utama srabeh yang agak ada manis manisnya, legit dan gurih. Di tambah dengan santan yang saya campur dengan Srabeh sehingga santanya meresap kedalam srabeh. Menjadikan kenikmatan srabeh gurih, nikmat tiada tara. Pokoknya Masuk Dek.

Saya di sini hanya sebentar. Sesudah semua menghabiskan srabeh dan yang paling akhir saya. Karena faktor usia. Makan sudah mulai lambat. Bukan seperti crew lain sekali makan habis sama piringnya.

Lantaran semakin malam dan para penikmat srabeh pada datang dan tempat sedikit sesak cuman ada satu kursi panjang dan dua bayang yang terbuat dari bambu. Tak enaklah dengan mereka yang berdiri. Kemudian kami segera bergegas meninggalkan penjual srabeh ini.

Tak sempat wawancara karna bukan wartawan dan memotret penjual serta apa saja yang ada di dalam gubuk kecil ini. Saya hanya ngerumpi dengan salah seorang dari crew kami yang biasa mangkal di sini. Di beritahukan bahwa penjual srabeh ini buka di malam hari kurang lebih diantara jam 00.00 sampai pagi.

Sedangkan harga srabeh persatu piring makan di tempat seharga Rp. 2000 rupiah saja. Cukup murah bukan. Bawa uang lima puluh. Cukup untuk mengenyangkan buat orang selusin kurang tiga.

Di sini selain menjual Srabeh. Menu lain yang saya pantau adalah ada Lontong yang di bungkus dengan daun pisang. Beserta kuah sayuran atau sayur lodeh. Flasback, nah ini dia. Yang seharusnya lontong di makan dengan sayur lodeh. Crew pencari begenggek kopi malah Mereka memakan dengan srabeh. Enggak tau rasanya gimana. Pokoknya ngak cocoklah.

Bagi kamu yang belum pernah sama sekali makan srabeh dengan kuah. Jangan ambil kuah sembarangan yah. Tanya dulu pada ahlinya ahli intinya inti yaitu penjualnya sendiri. Kalau tanya yang tidak ahli. Resiko di tanggung sendiri. Menu tambahan lain ada Kerupuk dan air dingin. Penjual srabeh ini berada di Bongkol, Desa Sumurgung, kecamatan Tuban.

Saya masih penasaran dengan tempat ini. Belum puas dan belum ngerasain gimana rasanya srabeh di campur dengan kuah sayuran. Dan bagaimana proses pembuatannya. Secara live. Namun apalah daya waktu, situasi dan kondisi tak memungkinkan untuk bertanya tanya. Lain kali bisalah kembali menyantap Srabeh lagi. Akhirnya kami bersama Crew Golek Begenggek melanjutkan kebarat menuju kandang masing masing. "Lah inilah susahnya bujangan tidurnya sendirian kata Lek Ron". Gok petek. 




4 comments

  1. Serabeh, owalah ternyata serabi ya cak
    Saya pikir tadi apa
    Saya klo serabi suka yg ori rasa kelapa gini, apalagi yg belakangnya gosong
    Hebat juga pedagangnya bisa buka mpe larut banget jelang pagi

    ReplyDelete
  2. Yang penting jangan mikir macem macem ajalah hekhek. Ternyata mbak nita juga senang makan srabi juga hehe

    ReplyDelete
  3. Wahalah, ini serabi to, haha. Bahanya aku nggak ngeh lho. Padahal aku sering ke Pati, bablas dikit Rembang. Terus Tuban ya? Dari Pati sendiri sampai Tuban logatnya sudah berubah banyak.

    ReplyDelete
  4. Iya habis Rembang - Tuban. Jangan lupa kalau ketuban call saya. Biar saya bisa Selfie bareng emak emak Blogger keren hehehe. Itulah kelebihan Nusantara berbeda beda logat namun satu jua Hek Hek Hek.

    ReplyDelete

Demi kenyamanan bersama berkomentarlah yang relavan. Terimakasih kunjungan Anda