Menu
Blog'e Cakjun

Imbas Radiasi Tahun Politik


Tahun ini adalah tahun politik. Bukan tahun ini saja sih. Namun tahun tahun sebelumnya juga merupakan tahun politik. Dan tepat pada 17 april 2019 ini adalah puncaknya. Yang menarik dalam laga pertarungan memperoleh kursi kekuasaan tahun ini. Yakni dalam pemilihannya beberapa pemilihan dari calon presiden dan wakil presiden sampai tingkat daerah. Dalam pemilihannya di lakukan serentak. (bakalan bingung nih kaum sembok sembok). Keunikan lain yang membuat saya ter ter.. Terr.. Adalah yakni munculnya fenomeba Cebong dan Kamvret.

Saya sendiri tidak ngurusi tidak gubris soal soal beginian. Namun secara pribadi dan sebagai warga negara Indonesia yang sudah memiliki KTP. Saya juga tidak golput. Artinya walau tidak masuk di kancah percebongan maupun perkamvretan. Tetap memiliki hak untuk memberikan suara kepada salah satu kandidat. Kalau saya coblos dua duanya kan ya ndak sah toh ya. 

Namanya tahun politik, walau tidak mengikuti jalannya pertandingan. Namun beberapa kali kena radiasi imbas  dari serangan perpolitikkan. Serangan ini tidak di pertandingan Nasional  maupun Internasional. Hanya sebatas di zona laga daerah saja. 

Nah, disini yang membuat saya radak kagum dengan taktik serta strategi para pemain perpolitikkan ini. Mereka bisa bermain dengan senyap. Bahkan bisa bergrilya. Lebih tepatnya bisa mendapatkan Ikan tanpa mengotori airnya. Namun tetap saja ada percikan air.  Apalagi ikannya seperti saya. Hekhekhek. 

Di sebuah kesempatan, saya lupa waktunya tapi ingat tempatnya. Serta tahu kandidatnya. Namun yang saya tidak tahu lagi. Bahwa ajakkan ini. Murni saya tidak mengetahui sama sekali. Bahwa saya akan mengikuti acara makan makan yang di adakan oleh Caleg.  
Kok bisa tidak tahu? Santai kalem. Begini. 

Wong namanya orang Netral bin nasionalis berteman dengan siapapun kan ya wajar, bebas, dari unsur klinik maupun mistis, tanpa ada gangguan makhluk astral layaknya Cebong dan Kamvret. 

Berawal dari sms.. WA. Teman saya ini mengajak saya makan makan di sebuah warung nyentrik di wilayahnya. Ketika itu saya agak malas untuk datang. Dan di percakapan wa pun sempat ada adu alasan untuk tidak menghadiri. Namun gimana lagi. Masak nolak rezeki. Selang beberapa waktu kemudian datanglah saya. 

Tak taunya di sini (Tempat makan) sudah banyak orang berkumpul. Duduk dengan santai sambil mendengarkan ceramah kebangsaan. Kulihat dari kejauhan. Hp pun bergetar. Sudah sampai mana? Langsung saja. Masuk. Kayanya acara resmi ya?  Ngak papa langsung masuk. Ongak ah. Kemudian salah satu seorang ada yang keluar mendatangiku. Akhirnya duduklah bersama mereka. 

Yaa, benar instingku tadi. Namun apalah daya, yang penting kenyang dan pulang dapat jatah. Serta dapat sedikit menambah pengetahuan ilmu perpolitikkan. Tau siapa yang menghubungiku. Yakni anak dari Caleg tersebut. Dah ganti satunya yang lebih memukau. 

Baru baru ini, awal awal april. Saya menghadiri sebuah workshop yang di selenggarakan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata jawa timur. Tema dari workshop tersebut adalah Seni Pergaulan (Tayub). Yang selanjutnya saya singkat SP(T).  Di salah satu hotel Tuban yang hmmm sekali di kawasannya. Ini yang saya baca dari undangan tersebut. Kok dapat undangan seperti itu? Aku iki emboh kok.

Namanya juga masih memiliki jiwa seni tentu mendapatkan undangan semacam ini sangat bergairah dan semangat untuk menghadiri. Apalagi di tempat yang di anggap mewah. Kan lumayan buat pencitraan di sosmed. 

Di dalam hotel tersebut, berisikan orang orang yang kehadirannya lewat undangan resmi. Jadi kalau bukan dari seorang seniman Tayub atau dari Seniman Pencak Silat. Tidak ada di situ. Mungkin sebagian Cebong dan Kamvret sudah berkamuflase di antara seniman seniman tersebut. 

Namun setelah beberapa narasumber memberikan tahusiahnya. Seorang yang mengatas namakan mbah Ronggo, yang saya tangkap dari radar gelombang gelombang nada suaranya secara halus membrontak. "Saya kira acara ini, Sebuah kerinduan para seniman dan bernostalgia kepada para sesama pelaku seni, saya tak menduga bahwa akan ada unsur politik, kalau saya tahu, tidak bakal saya mendatangi acara ini". Sebagian teks hilang. 

Tak luput juga salah satu dari dunia persilatan yang duduk bersama meja kami juga menyampaikan hal yang senada. Di utarakan lewat obrolan kami. 

Aku sendiri di samping heran juga, mengapresiasi dengan strategi melancarkan Anu semacam ini namun juga trenyuh. Bagaimana mana tidak. 

Di undangan di sebutkan dari dinas kebudayaan dan pariwisata. Tema "SP(T). Tamu undangan. Dari seniman tayub dan Pencak Silat. Okaylah..  Saya tahu?  ada keterkaitan memang antara Tayub dan Silat Namun ujung ujung pembicaraan tetap saja isinya minta dukungan dari para anggota. Dan ternyata.. Ahh.. Asu udahlah.  

Yah bagi saya memang salah satu strategi jitu untuk mendapatkan basis masa yang jelas. Bagaimana tidak. Kita urai sekilas. Dari pencak silat pun memiliki banyak perguruan. Satu perguruan pun memiliki banyak anggota. Demikian pula dari para seniman Tayub. Dari 18 perguruan yang mendatangi acara ini. Ada satu yang nyangkut kan lumayan. Hek Hek. 

Sebenarnya acara ini sangat memberikan pencerahan yang baik bagi para pelaku seni. Tentunya dengan fokus pada apa yang menjadi pokok permasalahan. Tentang kesenian tradisional di tengah tengah masyarakat modern agar terus terjaga dan di lestarikan oleh kaum milenial. Dan menjadi jati diri bangsa. Seperti yang diutarakan oleh narasumber. Ahh rasanya sudah tak nafsu untuk melanjutkan mengikuti jalannya acara. Alhasil saya tidak menyimak, apalagi ada jeda makan, habis makan nyantai di teras belakang sambil menikmati pemandangan dari atas gedung jauh lebih asik. Sudah ngempet tidak nyumet dari tadi kok. 

Thilalah, di belakang kok ya ketemu. Tetangga sebelah yang mengenali saya. Saya kira saya sendirian di sini. Duhh, ternyata Tuban sempit ya.  Alhasil terbongkar dah saya. Memang Saya di sini bukan dari Seniman Tayub namun mewakili salah satu perguruan pencak silat. Demikian pula tetangga saya ini juga dari perguruan lain. Mungkin inilah yang di namakan seni pergaulan tanpa melihat dan mengenal dari mana kita, serta membeda bedakan, apa latar belakang kita. Terpenting tujuan kita sama. Sama sama melestarikan budaya bangsa. 

Acara berlangsung dari jam 09.00 wib, tepat pukul 13.00 wib saya pulang itu pun saya menanyakan, kebetulan kandidatnya mendekati kami. Dan teman saya menanyakan. "Bu Sekarang sudah boleh pulang kan. Sudah.. jangan lupa no.Nya tadi di kembalikan ke panitia biar dapet uang bensin. Yiiiaahh siiiiiiappp. Jangan senyum senyum tapi di coblos loo yahh. Dengan nada sinis". 

No comments

Demi kenyamanan bersama berkomentarlah yang relavan. Terimakasih kunjungan Anda